Sabtu, 06 November 2010

MAKALAH

PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG

PENYAKIT TUBERCULOSIS PARU

logo POLTEKKES.jpg

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

1. AKHMAD WINDARTO P17433108004

2. INTAN ESTU H. P17433108021

3. NOVITA KARTIKA P. P17433108028

4. WINDI AFTARIA I. P17433108041

5. BADLI PARHATI P17433108051

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO

PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN

2010

MAKALAH

PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG

PENYAKIT TUBERCULOSIS PARU

Makalah ini disusun guna

memenuhi tugas mata kuliah PPML

semester ganjil tahun akademik 2010/2011

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

1. AKHMAD WINDARTO P17433108004

2. INTAN ESTU H. P17433108021

3. NOVITA KARTIKA P. P17433108028

4. WINDI AFTARIA I. P17433108041

5. BADLI PARHATI P17433108051

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO

PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kahadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat dan hidayat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah yang berjudul “Penyakit Tuberculosis Paru” ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pemberantasan Penyakit Menular Langsung semester ganjil tahun akademik 2010/2011.

Tak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu di dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

Akhirnya tiada gading yang tak retak. Penyusun menyadarai bahwa di dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Dan karenanya penyusun mohon maaf dan menerima saran terbuka untuk perbaikan di lain kesempatan selanjutnya.

Purwokerto, September 2010

Penyusun


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

B. Tujuan

C. Manfaat

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit TB Paru

B. Penyebab Penyakit TB Paru

C. Distribusi dan Reservoir Penyakit TB Paru

D. Cara Penularan Penyakit TB Paru

E. Masa Inkubasi Penyakit TB Paru

F. Masa Penularan Penyakit TB Paru

G. Kerentanan dan Kekebalan

H. Cara Pemberantasan atau Pencegahan

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.

Di Indonesia khususnya, Penyakit ini terus berkembang setiap tahunnya dan saat ini mencapai angka 250 juta kasus baru diantaranya 140.000 menyebabkan kematian. Bahkan Indonesia menduduki negara terbesar ketiga didunia dalam masalah penyakit TBC ini.

Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 – 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian penyakit TB Paru

2. Untuk mengetahui penyebab penyakit TB Paru

3. Untuk mengetahui distribusi dan reservoir penyakit TB Paru

4. Untuk mengetahui cara penularan penyakit TB Paru

5. Untuk mengetahui masa inkubasi penyakit TB Paru

6. Untuk mengetahui masa penularan penyakit TB Paru

7. Untuk mengetahui kerentanan dan kekebalan penyakit TB Paru

8. Untuk mengetahui cara pemberantasan atau pencegahan penyakit TB Paru

C. Manfaat

1. Bagi Masyarakat

Sebagai informasi tentang penyakit TB Paru kepada masyarakat agar mengerti tentang bahaya penyakit TB Paru sehingga dapat melakukan pencegahan secara mandiri.

2. Bagi Institusi

Menambah bahan kepustakaan bagi institusi

3. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam menulis.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit TB Paru

TB paru atau Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan olek Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru - paru. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang, dan selaput otak. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang terakhir ini, bakteri yang berperan adalah Mycobacterium bovis.

TBC dalam hal ini TB paru merupakan salah satu penyakit yang sangat infeksius. Seorang penderita TB paru dapat menularkan penyakit kepada 10 orang disekitarnya. Menurut WHO sendiri saat ini sudah sekitar 1/3 penduduk dunia terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Kabar baiknya tidak semua orang yang terinfeksi akan menderita TB paru, namun bukan berarti orang tersebut tidak dapat menularkan penyakit TB paru.

Penderita TBC akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk berdahak kronis, demam subfebril, berkeringat tanpa sebab di malam hari, sesak napas, nyeri dada, dan penurunan nafsu makan. Semuanya itu dapat menurunkan produktivitas penderita bahkan kematian.

Gejala Umum :

 Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih

Gejala lain yang sering dijumpai :

 Dahak bercampur darah

 Batuk darah

 Sesak nafas dan rasa nyeri dada

 Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.

Gejala-gejala tersebut diatas dijumpai pula pada penyakit paru selain TBC. Oleh sebab itu orang yang datang dengan gejala diatas harus dianggap sebagai seorang “suspek tuberkulosis” atau tersangka penderita TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Selain itu, semua kontak penderita TB Paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya.

B. Penyebab Penyakit TB Paru

Penyakit TB paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).

Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembek. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dorman selama beberapa tahun. Kuman dapat disebarkan dari penderita TB BTA positif kepada orang yang berada disekitarnya, terutama yang kontak erat.

C. Distribusi dan Reservoir Penyakit TB Paru

Penyakit TB paru tersebar di seluruh dunia. Pada awalnya di negara industri, penyakit tuberkulosis menunjukan kecenderungan yang menurun baik mortalitas maupun morbiditas. Namun di akhir tahun 1980an jumlah kasusnya meningkat di daerah yang prevalensi HIV-nya tinggi dan di daerah yang dihuni oleh pendatang yang berasal dari daerah yang prevalensi TB tinggi. Mortalitas dan morbiditas meningkat sesuai dengan umur, pada orang dewasa lebih tinggi pada laki – laki.

Sedangkan pada umumnya manusia adalah sebagai reservoir dari bakteri penyebab penyakit TB paru.

D. Cara Penularan Penyakit TB Paru

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

E. Masa Inkubasi Penyakit TB Paru

Mulai saat masuknya bibit penyakit sampai tmbulnya gejala adanya lesi primer atau reaksi tes tuberkulinpositif kira – memakan waktu 2 – 10 minggu. Resio menjadi TB pau atau TB ekstrapulmoner progesif setelah infeksi primer biasanya terjadi pada tahun pertama dan kedua. Infeksi laten dapat berlangsung seumur hidup. Infeksi HIV dapat meningkatkan resiko terhadap infeksi TB dan memperpendek masa inkubasi.

F. Masa Penularan Penyakit TB Paru

Secara teoritis penderita tetap menularkan penyakit ini sepanjang ditemukan basil TB di dalam sputum mereka. Penyakit yang tidak diobati atau yang diobati tidak sempurna pada dahaknya mengandung basil TB selama bertahun – tahun. Tingkat penularan sangat bergantung pada hal – hala sebagai berikut

1. Jumlah basil TB yang dikeluarkan

2. Virulensi dari basil TB

3. Terpajannya basil TB dengan sinar ultraviolet.

4. Terjadinya aerosolisasi pada saat batuk, bersin, bicara atau pada saat bernanyi.

5. Tindakan medis dengan resiko tinggi seperti pada waktu otopsi, intubasi atau pada waktu melakukan bronkoskopi.

Pemberian OAT yang efektif mencegah terjadinya penularan dalam beberapa minggu paling tidak dalam lingkungan rumah tangga. Anak-anak dengan TB primer biasanya tidak menular.

G. Kerentanan dan Kekebalan Penyakit TB Paru

Risiko terinfeksi dengan basil TB berhubungan langsung dengan tingkat pajanan dan tidak ada hubungan dengan faktor keturunan atau faktor lainnya pada penjamu. Periode yang paling kritis timbulanya gejala klinis adalah 6-12 bulan setelah infeksi. Resiko untuk menjadi sakit paling tinggi adalah usia dibawah 3 tahun dan paling rendah pada usia akhir masa kanak-kanak dan resiko meningkat lagi pada usia adolesen dan dewasa muda serta usia tua pada penderita dengan kelainan sistem imunitas. Reaktifasi dari infeksi laten yang berlangsung lama sebagian besar terjadi pada penderiat TB lebih tua. Untuk mereka yang terinfeksi oleh basil TB kemungkinan menjadi TB klinis pada penderita HIV/AIDS, mereka dengan kelainan sistem imunitas, mereka dengan berat badan rendah dan kekurangan gizi, penderita dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, penderita kanker, silikosis, diabetes, postgastrektomi, pemakaian NAPZA. Orang dewasa dengan TB laten yang juga disertai dengan infeksi HIV kemungkinan untuk menderita TB klinis selama hidupnya berkisar antara 10% sampai dengan 60-80%.

H. Cara Pemberantasan atau Pencegahan Penyakit TB Paru

Berikut adalah cara pencegahan penyakit TB Paru.

· Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.

· Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan.

· Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak

· Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.

· Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.

· Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.

I. Cara Perawatan dan Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium)

Obat untuk TBC berbentuk paket selama 6 bulan yang harus dimakan setiap hari tanpa terputus. Bila penderita berhenti ditengah pengobatan maka pengobatan harus diulang lagi dari awal, untuk itu maka dikenal istilah PMO (pengawas minum obat) yaitu adannya orang lain yang dikenal baik oleh penderita maupun petugas kesehatan (biasanya keluarga pasien) yang bertugas untuk menngawasi dan memastikan penderita meminum obatnya secara teratur setiap hari. Pada 2 bulan pertama obat diminum setiap hari sedangkan pada 4 bulan berikutnya obat diminum selang sehari. Regimen yang ada antara lain : INH, Pirazinamid, Rifampicin, Ethambutol, Streptomisin.

Yang dapat anda lakukan:

· Konsultasi ke dokter anda.

· Minumlah obat anti tuberkulosa, sesuai nasihat dokter secara teratur, dan jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter, karena kan mendorong kuman jadi kebal terhadap pengobatan anti tuberkulosa. Biasanya penyembuhan paling cepat sekitar 6-9 bulan kalau minum obat secara teratur.

· Makanlah makanan bergizi.

· Menyederhanakan cara hidup sehari-hari agar tidak menyebabkan stres dan banyak istirahat terutama di tempat berventilasi baik.

· Menghentikan merokok, bila anda perokok.

Tindakan dokter untuk anda

· Memastikan diagnosa melalui pemeriksaan dahak, pemeriksaan rontgen dada atau pada temapat lain yang disesuaikan keperluan, pemeriksaan darah dan kadar gula darah.

· Memberi resep obat-obat anti TB.

· Menganjurkan anda untuk masuk rumah sakit bila dipandang perlu, dengan tujuan memulihkan kesehatan dan istirahat, agar melampaui saat gawat selesai.

· Melakukan operasi

Pemeriksaan Penunjang

· - Tuberculin skin testing

· Dilakukan dengan menginjeksikan secara intracutaneous 0.1ml Tween-stabilized liquid PPD pada bagian punggung atau dorsal dari lengan bawah. Dalam wkatu 48 – 72 jama, area yang menonjol (indurasi), bukan eritema, diukur. Ukuran tes Mantoux ini sebesar 5mm diinterpretasikan positif pada kasus-kasus :

· 1. Individu yang memiliki atau dicurigai terinfeksi HIV

· 2. Memiliki kontak yang erat dengan penderita TBC yang infeksius

· 3. Individu dengan rontgen dada yang abnormal yang mengindikasikan gambaran proses penyembuhan TBC yang lama, yang sebelumnya tidak mendpatkan terapo OAT yang adekuat

· 4. Individu yang menggunakan Narkoba dan status HIV-ny tidak diketahui

· Sedangkan ukuran 10mm uji tuberculin, dianggap positif biasanya pada kasus-kasus seperti :

· 1. Individu dengan kondisi kesehatan tertentu, kecuali penderita HIV

· 2. Individu yang menggunakan Narkoba (jika status HIV-ny negative)

· 3. Tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, populasi denganpendapatan yang rendah, termasuk kelompok ras dan etnik yang beresiko tinggi

· 4. Penderita yang lama mondokdirumah sakit

· 5. Anak kecil yang berusi kurang dari 4 tahun

· Uji ini sekarang sudah tidak dianjurkan dipakai,karena uji ini haya menunjukkan ada tidaknya antibodi anti TBC pada seseorang, sedangkan menurut penelitian, 80% penduduk indosia sudah pernah terpapar intigen TBC, walaupun tidak bermanifestasi, sehingga akan banyak memberikan false positif.

· - Pemeriksaan radiologis

· 1. Adanya infeksi primer digambarkan dengan nodul terkalsifikasi pada bagian perifer paru dengan kalsifikasi dari limfe nodus hilus

· 2. Sedangkan proses reaktifasi TB akan memberikan gambaran :

· a) Nekrosis

· b) Cavitasi (terutama tampak pada foto posisi apical lordotik)

· c) Fibrosis dan retraksi region hilus

· d) Bronchopneumonia

· e) Infiltrate interstitial

· f) Pola milier

· g) Gambaran diatas juga merupakan gambaran dari TB primer lanjut

· 3. TB pleurisy, memberikan gambaran efusi pleura yang biasanya terjadi secara massif

· 4. Aktivitas dari kuman TB tidak bisa hanya ditegakkan hanya dengan 1 kali pemeriksaan rontgen dada, tapi harus dilakukan serial rontgen dada. Tidak hanya melihat apakah penyakit tersebut dalam proses progesi atau regresi.

· Pemeriksaan darah

· Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang-kadang meragukan, tidak sensitif, tidak juga spesifik. Pada saat TB baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih dibwah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Jika penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal, dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi. Bisa juga didapatkan anemia ringan dengan gambaran normokron dan normositer, gama globulin meningkat dan kadar natrium darah menurun.

· Pemeriksaan sputum

· Pemeriksaan sputum adalah penting, karena dengan ditemukannnya kuman BA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Kriteria BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.


DAFTAR PUSTAKA

kapita selekta kedokteran edisi III, media aesculapius, jakarta, 2000

http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/264-tuberculosis-paru-tb-paru.html (11 sep 2010 sabtu 19.47)

Chin, James. 2006. MANUAL PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR. Jakarta : Info Medika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar